HEY i'm a
Directioner! VasHappening?
thankyou for reading my stories, you can read them from 'story one', 'story two', or 'zls'. please leave a message or opinion in the comment box (:

oh my flack! youre the

Rabu, 07 Agustus 2013

new fanfiction! HEART VACANCY :)

http://www.quotev.com/story/2704116/The-Guest-Stars-Harry-Styles-Fanfiction/

http://www.quotev.com/story/2704116/The-Guest-Stars-Harry-Styles-Fanfiction/

comment what you think guys, thanks for reading xoxoxoxoxo

Rabu, 12 Desember 2012

ZLS 4


——————————————————————————
*3 hari kemudian*

“Kami pesan...” Dia mengatakan sambil melirik menu, kami berada di restoran yang sama seperti sebelum menjadi sesuatu bagi kami untuk pergi ke sana setiap saat dan kami akan melakukan hal yang sama seperti biasa.

"No no no, kau memesan makanan terakhir kali, dan sekarang giliranku." Aku melihat ke menu. "Bagaimana kalau kita pesan grilled chicken dan pasta?" Tanyaku.

"Baiklah." Katanya sambil tersenyum. 
———————————————————————————
*akhir pekan*

"Kau akan kalah, Malik!" Aku meneriakinya.
"Oh yeah? Bring it on Brianna!" Dia meneriaki balik.

"Guys, santailah, ini cuma permainan." Kata Liam.
"Yep, karena kau akan kalah!" Kata Louis dan aku meng-highfivenya. Kami sedang bermain di flat utama the boys yang jaraknya tidak terlalu jauh dari flat Zayn.

Zayn akhirnya mau keluar dari flatnya untuk bertemu yang lain. Aku sudah lama tidak bertemu the boys plus Eleanor dan Danielle sejak aku tinggal bersama Zayn.

Kami sedang bermain rugby dari Wii. Setelah beberapa babak, aku merasa b osan dan haus, jadi aku mulai berjalan menjauhi mereka dan berjalan ke dapur, ke tempat Eleanor dan Danielle sedang mengobrol.

“Bree, kau tidak apa-apa?” Teriak Zayn dari tempat bemain kami tadi karna aku meninggalkan mereka. 
“Yeah, aku cuma mengambil minum” aku berteriak balik.
“Ok!" Katanya memberiku senyuman dan kembali lagi bermain.

Aku menjatuhkan diriku di kursi sebelah El dan mengambil sebotol air, membukanya sambil melihat kembali ke arah the boys yang lagi main, aku melihat Zayn tersenyum ke arahkudan aku mengikutinya. dia selalu bisa menggambar senyum di wajahku. 

“Jadi kau dan Zayn sekarang berpacaran?” Aku tersedak dan air yang ku minum tadi keluar lagi, membuatku batuk.

“Bree! Kau tidak apa apa?” Aku dengar suara Danielle.
“Apa katamu?” Aku melihat ke arah El.
“Kalian berdua berpacaran?” Dia bertanya lagi.
“Siapa yang memberitahumu itu?” Tanyaku, menyender di kursi.

"Tidak ada, tapi itu sangat jelas. Maksudku, lihatlah bagaimana dia khawatir saat kau meninggalkannya dan bertanya apa kau baik baik saja" kata El.

“Terus kenapa? Kami teman baik dan aku menghabiskan banyak waktuku bersamanya, di flatnya." Kataku, meyakinkannya.

“Tepat sekali” kata Danielle.
“Kau juga?!” Tanyaku. 

“Ayolah Bree, kau baru saja berkata kalau kalian menghabiskan banyak waktu bersama, tepatnya 5 minggu! Dan ayolah, kau tau kalau Zayn itu sexy, dan dia sangat baik, tidakkah sekali saja kau berpikir itu?" Kata Danielle.

"tidak, aku belum dan hiraukan saja itu oke. Aku hanya tinggal dengan dia sampai ia melupakan mantannya dan ketika dia melakukannya itu, selesai, aku akan pindah kembali kerumahku."

"Dia telah melupakannya, percaya padaku." Kata Danielle.

"Maksudmu?" Tanyaku.

"Bukankah dia kemarin keluar untuk 'mencari makan' untuk kalian berdua?" Kata Danielle.

"ya, bagaimana kau tau?" Aku melihat dengan bingung.

"karena ia bertemu dengan seorang gadis dan dia mengajaknya keluar dan dia datang dan mengatakan Liam semua tentang hal itu ... dan kemudian tentu saja Liam mengatakan kepadaku ... jadi ya"

“oh…guess I’m moving out then” kataku, melihat ke arah Zayn.

Mengapa aku merasa begitu buruk tentang hal itu? Maksudku, aku sudah menghabiskan semua waktu ini dengan Zayn hanya untuk membawanya ke saat ini. Ketika ia akhirnya dapat melupakan masa lalunya dan pergi keluar dengan gadis lain. Tapi aku tidak mau pergi, aku sudah terbiasa dengan dia, sepertinya, bagaimana aku bangun setiap pagi dan membuat Zayn bangun beberapa saat kemudian, karena dia tidak mau meninggalkanku sendiri.
Percakapan panjang setiap pagi di dapur, nonton TV sepanjang hari karena tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Tapi aku akan melihat dia lagi kan? Seperti kami tidak akan berhenti berteman?

*di flat zayn*

“Apa yang akan kau lakukan besok?” Tanyanya saat kami lagi menonton TV.

“Aku belum tau, kau?” Tanyaku, tidak mengalihkan mataku dari TV.

“Aku punya kencan besok” katanya dan kurasakan hatiku tenggelam..tapi aku tidak bisa menunjukkan itu jadi aku hanya tersenyum dan memalingkan wajahku ke arahnya. 

“Tidak mungkin!!” Kataku terlihat senang. 
“Yep, dan aku akan bertemu dengannya di restoran kita....maksudku restoran yang ada di sekitar flat ini." Kata Zayn, dia terlihat sangat senang.

"Itu bagus sekali! Aku sangat sangat senang untukmu, kuharap semuanya baik baik saja besok!" Kataku. Aku menghela napas sebelum meninggalkannya dan pergi ke kamarku.
Sebelum tidur, aku diam diam membereskan barang barangku, jadi aku akan pergi besok.... Kenapa semua ini terdengar seperti aku akan meninggalkan Zayn selamanya? Aku hanya pindah dari tempat ini...biarpun semuanya terasa tidak benar. Hatiku terasa sangat berat di dadaku, aku merasa aku tidak bisa bernapas.—————————————————————-
*besoknya*

“Bagaimana penampilanku?” Katanya, berjalan keluar dari kamar mandi memakai jas hitam, dia sehabis mencukur kumisnya, rambutnya terlihat sangat rapi dengan jambulnya seperti biasa, dia terlihat sangat berbeda, sangat gentleman.

"Sempurna." Kataku sambil merapikan dasinya.
"Benarkah?" Katanya.
"Yep." Kataku dan aku menangkap tatapannya lagi, tanganku beristirahat di dadanya, merasakan naik dan turun dari setiap napas yang ia ambil. Aku melihat ke wajahnya yang sangat indah, mencoba untuk memahami kalau akan ada gadis lain yang akan menikmati ini.

“Thank you”
“you’re welcome, kau harus pergi” kataku, melangkah menjauh darinya.

"ya, jangan pergi tidur tanpaku please, dan aku benar-benar minta maaf kalau kau harus makan sendirian malam ini, tapi ini hanya untuk satu malam. Jika kau memerlukan sesuatu panggil aku ok.... atau jika terjadi sesuatu." Dia terus berbicara sambil mengambil langkah ke pintu keluar dan aku mengikutinya.

"Bye."
"Bye."

Sesaat setelah Zayn meninggalkan rumah, aku segera mengganti bajuku dan memberes bereskan tasku untuk pergi dari flat ini. Aku memanggil taxi untuk mengantarku ke rumahku, yang sebenarnya sangat jauh dari sini dan aku menulis surat terakhir dan meninggalkannya di kaca toilet seperti biasa. Menutup pintu untuk terakhir kalinya, dan naik ke taxi. Taxinya mulai berjalan dan aku hanya menatap keluar jendela mobil. Mendekat ke arah 'restauran kami', mataku tertangkap pada Zayn yang duduk di meja kami seperti biasa. Melihat ke menu, di depannya duduk seorang gadis yang berambut coklat dan saat itu aku dapat mendengar suara hatiku yang hancur.
Aku melihatnya menoleh ke arah taxi yang aku naiki, aku segera menunduk ke bawah, menghindarinya, dan di saat itu, detik itu, aku sadar...
Kalau aku mencintainya.

——————————————————————

Zayn’s POV

Aku duduk di sini, di depan cewek yang aku hampir aku tidak kenal. Namanya Geneva dan dia seumuran denganku sepertinya dan hanya itu yang kutau tentang dia. aku mengamati menu yang sangat familiar, atas dan bawah.

"Aku mau steak." Katanya.
"Oh..." Kataku masih melihat menu. "Kau mau pasta? Aku ingin sekali mencobanya tapi aku juga mau ayam panggang....kita bisa berbagi." Tanyaku dengan tersenyum, mengingat kalau dulu Bree yang mengajakku untuk berbagi makanan.

"Ga, aku mau steak, jadi bisakah kau pilih apa yang kau mau?" Katanya dan sejenak kepalaku menoleh ke arah luar, aku yakin tadi aku melihat bayangan Bree di luar. Dan saat itu aku tersadar,

Apa yang aku lakukan di sini? Dan most of all, apa yang aku lakukan di sini dengannya? Yang aku mau ialah bersama Bree, tapi aku tidak bisa meninggal cewek ini sendiri di sini.

"Aku mau ayam panggang." Kataku, dan pelayan itu pergi. Malam itu berjalan biasa saja, dan hal yang aku pikirkan hanyalah menghabiskan malam seperti biasa dengan Bree di flatku tidak melakukan hal apa pun, hanya menonton TV dan mendengarnya tertawa akan leluconku dan aku akan tertawa akan tawanya dan itu membuatku merasa lebih baik. Aku menemukan diriku berpikir terlalu lama dengan pikiranku yang tidak di sini.

"Kau tidak apa-apa?" Kata cewek yang di depanku.
"Ya, maaf, hanya banyak pikiran." Kataku, membenarkan tempat dudukku.

"Oh. Jadi aku mau...-" dia memulai.
"Apa yang kau pikirkan tentang mataku?" Kataku berterus terang, memotong pembicaraanya.
“Ha?” Dia setengah tertawa.
“Mataku.. Apa menurutmu tentang mataku?” Aku mengulang.
“Matamu..........coklat.” Katanya perlahan lahan dan aku tersenyum pada diriku sendiri, mengingat perkataan Bree:

'Kau pantas mendapatkan cewek yang akan memberitahumu seberapa indah matamu, biarpun kau tidak pernah mementingkannya.'

Malam itu akhirnya berakhir dan aku sedang di jalan ke kamarku, dengan makanan yang kubawa pulang dari restoran tadi, berlari ke atas, merasa sedikit senang bahwa aku akan membuka pintu itu dan menemukannya di dalam begitu ceria dan bahagia menunggu untuk mendengar segala sesuatu tentang hariku dan mencerahkan malamku dengan tawa dan komentar sarkastiknya. Aku meraih kantongku untuk mencari kunci, saat aku membuka pintu, masuk ke dalam, rasanya tempat ini terdengar lebih diam dan sepi.

"Bree?" Panggilku sambil menutup pintu dibelakangku. "Bree?" Panggilku lagi.

"Tebak apa? Restoran kita membuat menu baru, pasta! Jadi aku membawanya untuk kita coba!" Aku tidak mendengar jawaban.

“Bree? Kau di sana?” Panggilku lagi, meletakan makanannya di meja dan berjalan ke kamarnya.

"Brianna?" Panggilku dengan suara pelan, aku mengintip sedikit kamarnya. Kosong. Tidak ada barangnya lagi yang berserakan di mana mana, dan kamarnya terlihat sangat bersih, sama seperti sebelum dia menginap di sini.

"Tidak tidak tidak" aku terus mengulang dan keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar mandi.
"Bree?" Panggilku lagi dan aku dijawab oleh kediaman. Aku berdiri di sana, di tengah tengah flatku, sekali lagi, aku tertinggal sendirian....sendirian. Keseluruhan tempat ini sepi, tepatnya seperti tidak ada kehidupan.

Dengan kecewa, aku pergi ke kamarku dan menjatuhkan tubuhku di tempat tidur, melepas dasiku dan melempar ke lantai. Melepas jaket dan bajuku dan melempar entah kemana.

Aku pergi ke kamar mandi, menyalakan lampu dan aku melihat cermin dengan sudut mataku dan berpaling cepat dan aku melihat kertas di cermin dan aku mulai membacanya.

'Hi! Saat kau membaca ini, pasti kau baru saja balik dari kencanmu kan? Bagaimana? :D Anyway, sekitar 5 minggu yang lalu, aku berjalan ke flat ini dengan kekuatiran yang sangaaaaaaaaat tinggi padamu. Dan aku menemukan bahwa hatimu sedang hancur dan aku tinggal di sini untuk meyakinimu, membuatmu lebih baik dan move on dan ternyata.... Misiku tercapai! Jadi menurutku, sudah tidak ada tujuan lagi untukku tinggal bersamamu lagi. Kau mungkin lega kan sekarang? Aku tau aku bagaikan luka padamu, tapi aku mungkin akan merindukan menghabiskan waktu bersamamu...jadi TTYL. Bye! :)" aku membaca.

Ironis sekali, 5 minggu yang lalu aku selalu memohon padanya untuk meninggalkanku dan sekarang, aku tidak bisa menghadapi kebenaran kalau dia telah pergi. Ini bukan seperti kalau aku mau, aku bisa pergi ke tempatnya. Tapi aku biasanya hanya melihat dia sekali sebulan.

Aku mengganti baju dan duduk di depan TV. Satu satunya suara di flat ini, hanya suara dari TV, aku menonton dengan ekspresi datar, bahkan aku tidak tau apa yang aku tonton. Karena satu satunya alasan mengapa aku menonton TV dan tertawa, karena dia melakukan hal itu, tertawa akan lelucon konyol di TV dan mendengarnya tertawa, membuatku tertawa juga. Aku memperhatikan kekosongan tempat ini, berharap dia mungkin akan duduk bersamaku dan menghabiskan malam ini bersama.

Menyerah, aku mematikan TV dan pergi ke kamarku dan berbaring di tempat tidur. Aku hampir bisa merasakan kulitnya yang halus di bawah jemariku seperti yang pernah ku lakukan. Aku ingat bagaimana aku menggerakan tanganku ke perutnya malam itu untuk waktu yang sangat lama untuk menenangkannya. Bagaimana dia terlihat sangat cantik saat dia tertidur dan bagaimana wangi tubuhnya adalah satu satunya yang bisa kuhirup malam itu. Aku tertidur malam itu, memikirkannya, memikirkan kalau aku dapat memilikinya....memikirkan hal yang sama yang aku pikirkan sekarang.
—————————————————————-

*hari berikutnya*

Zayn's POV

Aku terbangun dan dengan sendirinya aku berjalan ke dapur...aku tidak tau mengapa. Aku berdiri di depan pintu dapur, dan lampu dapur masih mati, tidak orang di sana. Aku berdiri di sana untuk beberapa waktu.....

"Aku tidak bisa terus melakukan ini" aku berkata pada diriku sendiri dan berjalan ke arah telpon dan menekan telpon.

"Hey zayn" aku mendengar suara Liam.
“Hey Li, kau tau dimana Brianna tinggal sekarang?” Aku bertanya.
"Aku tidak tau pasti, yang aku tau dia tinggal di sisi lain London." Katanya.
"Bisakah kau tanya siapapun? Aku ingin ketempatnya" kataku.
"Aku akan menanyakan Danielle kalau dia tau, aku akan beritahumu secepatnya." Katanya dan dia memutuskan telpon, aku duduk di tempt tidurku dengan telepon di tangan, menunggu sms dari Liam dengan tidak sabar.

"Cmon cmon" aku berkata pada teleponku. "Ayolah!" Aku berkata lagi. 2 menit kemudian, telepon menyala dengan sms dari Liam, aku membacanya dan isinya ada alamatnya.
---------------------------------------------------------------

Aku terengah engah berdiri di depan pintunya. Aku melihat jamku, dan ternyata butuh sejam setengah untuk ketempatnya. Dengan mengambil napas, aku memencet bel rumahnya. Tidak ada yang menjawab, aku memencet lagi. Aku melangkah mundur saat pintunya terbuka. Bree. Dia terlihat cantik seperti biasanya, tersenyum padaku.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Katanya, setengah tertawa. Dan kurasakan duniaku menyala lagi.
————————————————————

Bree's POV

Aku membiarkannya masuk dan duduk di ruang tamu. Aku melihat ke arahnya, dan dia terlihat sangat sempurna, seperti biasanya.

"Mengapa kau tidak memberitahuku kalau kau akan pergi?" Tanyanya.

"Aku meninggalkan kertas, tidakkah kau lihat?" Jawabku.

“Kenapa kau tidak memberitahu?” Tanyanya lagi, menyelipkan tangannya ke kantongnya.

“Karena kau tidak membutuhkanku lagi” kataku, menyilangkan tanganku ke dadaku.
“Aku membutuhkanmu, seharusnya kau memberitahuku dulu” katanya, dan dia berjalan mendekat.
“…sorry, I guess.” Kataku, bingung. “Kenapa kau di sini Zayn?" Tanyaku.

“Aku di sini untuk membawamu balik” katanya dan sekarang dia berada beberapa inci dariku.
“Kau mau aku tinggal bersamamu?” Tanyaku, dan dia mengangguk. "Sure, aku teman baikmu dan aku bisa saja tinggal bersamamu" kataku mencoba untuk tenang, dan terlihat cool.

"Aku tidak mau kau balik sebagai teman baikku." Katanya dan aku hanya melihatnya dengan bingung, dia berjalan mendekat lagi denganku sangat dekat, aku dapat merasakan hangat tubuhnya yang membuatku susah bernapas.

"Please jangan berdiri sangat dekat padaku, aku mempunyai masalah bernapas." Kataku dengan napas yang berat, seakan memberitahunya unruk lebih mendekat lagi. Belakangku mengenai tembok dan aku tidak bisa bergerak lagi. Dia mendekatkan wajahnya dan sekarang dahiku dan dahinya bersentuhan. Aku mendorongnya dengan pelan.

“Kau mempunyai mata hazel yang sangat indah!” Kataku melihat langsung ke matanya dan saat itu aku merasakan lembut bibirnya menyentuh bibirku.

..........

Aku melepas ciumannya karena aku benar benar kehabisan napas. Dia tersenyum dan menarikku lebih dekat ke dadanya oleh pinggangku, ia terus menatapku. Seolah-olah ia sedang memeriksa wajahku, ia menyingkarkan seikat rambut dari mataku dan menatapku.

"I love you Brianna" katanya dan tampaknya seolah-olah kata-katanya membawa saya kembali dari tempat yang membosankan. 

"I love you too, Zayn." 


-----------------------------------------------------------------

ZLS 3

--------------------------------------------

*sisa hari di minggu ini*

Aku mulai mencari kenyamanan di tempat ini, aku sudah mulai terbiasa, aku tau dimana barang-barang diletakkan dan bagaimana cara hidup di lingkungan seperti ini. Hari demi hari, aku menyadari Zayn bangun lebih awal dan alasannya 'aku tidak mau meninggalkanmu sendiri' dan itu membuatku sangat senang. Akhir minggu ini, aku membuat dia untuk mencukur, dan dia tampak sangat bagus dengan pipi yang tidak berambut!

“Lebih baik?” Tanyanya melangkah keluar dari kamar mandi.
“Sangat baik.” 
——————————————————————————————
*weekend minggu depannya*

“Aku mau memesan...” Katanya melihat menu yang di restauran kecil di sekitar flat Zayn, aku sedang melihat melihat menu dan dia melakukan hal yang sama. Ini pertama kali kami benar benar keluar rumah dan makan di restauran dan aku merasa sangat bangga! Aku sangat senang karena kami pergi keluar dan dia orang yang mengajaknya terlebih dahulu karena aku mulai pergi dari flatnya sendiri setiap hari dan pergi keluar tanpa Zayn dan saat aku balik aku akan terus berkata betapa bagusnya pemandangan diluar dan mungkin dia muak mendengarnya.

“Aku tidak tau, aku mau spagetti dan sandwich juga, bagaimana denganmu?” Katanya melihatku.
“Bagaimana kalau kau memesan dua duanya dan kita akan berbagi” aku memberi saran.
“Benarkah? Kau akan melakukannya?” Tanyanya.
“Yep, aku pemakan semuanya dan aku suka berbagi makanan... Jadi yep.” Kataku sambil tersenyum.
————————————————————————————-

*2 hari kemudian*

“Ughhhh” aku menggeram sambil berbaring di sofa. Ini udah tengah malam dan aku terbangun dengan perut yang menyiksa. Mengapa? Karena masa haid-ku datang mengunjungi (―˛―Ù¥)

“Ughhh aku hanya ingin tidur!” Aku merengek pada perutku sambil mengelus ngelusnya, tapi tetap saja sakitnya tidak hilang. Aku mendengar suara pintu terbuka tapi aku memutuskan untuk menghiraukannya, karena perutku tidak berhenti menyiksaku.

“Demi tuhan aku hanya ingin tidur!” Aku berbicara pada langit langit, sudah kebiasaanku, berbicara pada benda mati.

“Pertama, kau berbicara pada siapa? Kedua, apa yang sedang kau lakukan?!” Zayn bertanya, berdiri di samping sofa.

“Pertama....” Aku mengangkat satu jari, “aku berbicara pada perutku” kataku sambil mengangkat satu jari lagi “aku mengelus perutku menurutmu apa yang sedang kulakukan?!” Kataku sedikit kasar, dia hanya mengangguk dan duduk di meja sebelah sofa.

"Kenapa?” Dia bertanya.
“Sakit perut” balasku sambil terus mengelus perutku.
“Kenapa? Perasaan kita tidak memakan makanan yang aneh aneh” katanya dan aku memalingkan wajahku dan memberinya tatapan serius….setelah beberapa lama, akhirnya dia mengerti.

“Oh! Kita berada di akhir bulan benarkah?” Tanyanya.
“yesssss” kataku meng-facepalm wajahku sendiri. 

Kami hanya duduk di situ tanpa berbicara apapun dan aku hanya terus mengelus perutku.
“Aku mau tidur....” Aku merengek dengan suara tangisan karena perutku benar benar menyiksaku! Aku merasakan tangannya dibelakang punggungku dan belakang lututku.

“Zayn!!!” Kataku dengan suara yang kencang, seperti aku meneriakinya. Dia membawaku ke kamarnya, bridal style, dia membaringkanku di kasurnya dan dia berjalan ke sisi lain tempat tidur.

“Apa yang kau lakukan?!” Tanyaku, bingung.
“Diamlah, aku capek mendengarmu merengek terus dan alasan mengapa aku bangun tadi karena kau tidak bisa diam!" Dia setengah berteriak sambil berbaring di sebelahku dan masuk ke selimutnya.
“Tidur” perintahnya.
“Apa? ...tidak.” Kataku, berdiri dari tempat tidurnya dan belum jauh darinya, perutku mulai menyiksaku lagi.

“ughhhh”
“Berhenti melakukan itu!” Dia memarahiku, "sekarang kembali ke sini" perintahnya lagi dan aku berbalik dan berbaring lagi disebelahnya. Dia berbaring di sisinya, kepalanya di atas tangannya. aku menoleh hanya untuk tertangkap dalam mata hazelnya lagi.. Dia sangat sempurna, in every way. Bagaimana bisa Perrie tidak menyukainya?

Aku merasakan tangannya menggapai tepian tanktopku dan napasku mulai berat, jantungku berdebar cepat. Aku merasakannya menyelipkan jari jarinya di dalam tanktopku. Dengan reflek, aku menoleh ke arahnya.
"Don't worry, aku tidak akan melakukan hal hal aneh, aku janji." Katanya dengan lembut.

Aku merasakan hangat jarinya menyentuh kulitku dan aku tersentak saat aku merasa seperti listrik melalui tubuhku sekali lagi. Aku menutup mataku dan seluruh tangan nya mengelus perutku, naik dan turun dengan halus.

Perutku terasa sangat mendingan, tidak menyiksa lagi, tidak lama kemudian aku tertidur....

———————————————————————————
*hari berikutnya*

Aku berkedip untuk menyesuaikan mataku pada cahaya yang menembus melalui jendela, dan akhirnya aku membuka mataku. Aku merasakan sesuatu yang berat yang beristirahat di perutku, aku melihat ke bawah dan ternyata tangan Zayn masih di situ. Aku menoleh ke arah Zayn, dia terlihat tertidur dengan lelap, aku tidak mau membangunkannya, jadi aku perlahan lahan menyingkirkan tangannya dan bangun.

*setelah zayn bangun*

Kami duduk di dapur seperti biasa pagi-pagi biasa, minum teh. Kami memiliki beberapa tawaan dan itu cukup menakjubkan untuk mendengar tawa nya. 

“Terimakasih..buat kemarin.” Kataku sambil tersenyum.
“Sama sama” dia tersenyum balik. 
“Bagaimana kau tau? ....kalau mengelus perut cewek akan membuatnya merasa lebih baik?” Tanyaku.
“Dulu aku sering melakukannya pada..kau tau..Perrie.” Katanya berterus terang, dan bibirku membentuk formasi 'O' (lol)

“Oh, si sampah itu!” Kataku. 
“Hey! Untuk apa itu?” Balasnya sambil tertawa.
"Seriously, kau dulu sering melakukannya untuk dia tapi dia tidak jatuh cinta padamu? Zayn, kalau kau melamarku kemarin malam setelah melakukan itu, aku akan langsung menerimamu! Perrie...dia benar benar bodoh!" Kataku dan dia hanya tertawa.——————————————————————————-
*2 hari kemudian*

Aku terbangun lagi di malam hari dan ingin menonton film apapun yang bisa membuatku menangis. Kau tau perasaan saat kau lagi datang bulan dan hanya ingin menangis terus menerus? Iya itu yang kualami sekarang. Aku membuka laptop dan menghabiskan 2 jam menonton 'Message In a Bottle' dan aku berakhir dengan tangisan saat cowoknya meninggal. Biarpun film dan laptopnya sudah kututup, aku masih menangis dan tangisanku semakin kencang, aku mendengar pintu kamar zayn terbuka dan langkah kakinya melangkah keluar dari kamarnya.

“Bree, kau tidak apa-apa?” Dia berdiri dibelakang sofa, seperti biasa jadi dia tidak dapat melihat wajahku, aku menekan bantal ke dadaku dengan tisue ditanganku.

"Y-ya." Aku mencoba berbicara, dia menyadari kalau aku sedang menangis, jadi dia duduk di sebelahku dengan cepat.

“Ada apa? Kenapa kau menangis?” Dia bertanya, terdengar khawatir.
"Aku hanya menonton film tadi dan cowoknya meninggal..kenapa mereka membuatnya meninggal? Padahal mereka baru saja merasakan cinta." Aku mulai menangis lagi, dan dia hanya melihatku dan tertawa, dia terus tertawa sampai punggungnya memukul sofa dan dia melihatku lagi sambil tersenyum.

“Stop laughing!” Aku meneriakinya lalu mengelap hidungku, aku pasti terlihat sangat buruk, aku menyadari dia memperhatikanku terus, dan aku menoleh kearahnya.

“Apa?” Tanyaku.
“Tidak apa apa” katanya, menggeleng kepala, "kau sangat lucu saat menangis." ———————————————————————————-
*akhir pekan*

'Selamat pagi! Aku pergi keluar dengan beberapa teman dan tidak tau kapan aku akan pulang. Sebaiknya kau mengajak salah satu temanmu untuk datang...hanya sebuah sugesti :P see you!” Aku menulis di selembar kertas dan menempelkannya di kaca kamar mandi sebelum pergi keluar.

Aku menghabiskan waktuku dengan teman temanku, pergi berbelanja, makan dan berakhiran dengan menonton bioskop yang membuatku balik ke flat Zayn sekitar jam 10 mungkin. Aku membuka pintu dan masuk, melepas sepatuku. 
Aku mendengar suara langkah kaki dari kamar Zayn ke living room.

“Kau darimana saja?” Dia memarahiku saat melihatku.
“Apakah kau membaca kertas yang kutinggalkan untukmu?” Tanyaku, terkejut, apa mungkin dia tidak ke kamar mandi hari ini? Hmm.

“Kenapa kau pulang selarut ini?” Dia memarahiku lagi seakan dia tidak mendengarkan pertanyaanku. "Dan mengapa kau tidak mengangkat teleponku? Aku terus menelponmu.!” Dia terus memarahiku dan itu membuatku membuka tasku dan meraih teleponku dan mendapati 9 missed calls dan SMS darinya.

“Maaf ak-”aku terpotong oleh perkataannya lagi.
"Aku sangat khawatir, kau tau! Aku takut kalau terjadi sesuatu padamu dan sekarang kau pulang seperti tidak ada sesuatu yang salah."
Aku mencoba untuk menahan senyum dari kata-katanya. Kalau aku tersenyum, dia akan mengira aku tidak menghargainya, tapi dia begitu peduli padaku dan itu membuatku sangat senang.

"Dan aku tidak tau haruskah aku makan atau tidak, karena aku tau kau tidak suka makan sendiri dan aku tidak mau makan sendiri tanpamu! Aku terus meneleponmu tapi kurasa teman temanmu lebih penting dari aku. Lain kali, kalau kau keluar, angkatlah telponmu.” Dia selesai memarahiku dan kembali kemarnya, membanting pintu.

Aku berdiri di sini tersenyum. Aku berjalan perlahan lahan ke kamarku. Kami baru saja menjadi sahabat baik, sangat baik dan aku menyukainya.

-----------------------------------------------------------------

ZLS 2

Hari berikutnya....

Aku berjalan sekitar dapur untuk membuatnya sarapan. Aku bangun 3 jam yang lalu tapi menjadi suka tidur seperti dia, aku yakin pasti dia tidak bangun sepaagi itu. Aku melakukan pekerjaan yang hebat membersihkan flat ini. Aku harus berkata, flat ini terlihat rapi. Kalau dia mengotori tempat ini lagi, aku mungkin akan membunuhnya!

“Woah, apa yang kau lakukan pada flatku?” Katanya berdiri di luar dapur dengan kaos putih dan sweat pants.
“ini namanya membersihkan, tapi aku tebak kau tidak tau hal semacam itu, kan?” Kataku sambil memberikannya segelas kopi.
“Thanks. Jadi kau beneran akan tinggal di sini?” Katanya sambil meminum kopinya.
“Aku tidak tau, itu terserahmu saja." Tidak lama, ada kediaman di antara kami berdua. 
“Jadi, apa yang akan kau lakukan hari ini?" Tanyaku, memutuskan tekanan.
“Tidak ada, aku hanya duduk di sini" katanya.
“Kau perlu keluar sana!”
"Itu tepat sekali apa yang aku tidak butuhkan, aku tidak butuh orang memberitahuku betapa bodohnya aku ini. Dan mereka tau semua itu akan terjadi dan aku sudah tau aku ini bodoh, jadi no thanks." Katanya sambil melangkah keluar dapur dan aku mengikutinya.

"Jadi apa? Kau akan duduk di sini sampai orang akan melupakan tentang ini?" Kataku sambil menatapnya dan duduk di sofa dan menyalakan TV. Dia tidak membalas. Berdiri di sana dan menjadi 'awkward'. "Sarapan sudah siap, by the way." Kataku dan berjalan keluar dari living room menju ke kamar tamu, yang sekarang menjadi kamarku. 2 menit kemudian, HPku berbunyi. I mengangkat dan ternyata itu Liam, aku tadinya sudah mau memarahi dia karena dia yang membuatku melakakukan hal ini.

“Bagaimana dia?” Tanya Liam.
“Bagaimana dia? Seharusnya bagaimana aku yang harusnya kau tanyakan! Sudah jelas kalau temanmu ini sangat menyebalkan” aku setengah meneriaki dia. 
“Tidak dia tidak menyebalkan, dan kau tau itu, dia hanya......sakit hati. Please bersabarlah dengan dia...untuk kepentingannya dia juga.” Katanya dan I sighed.
“fine, aku akan mencoba sebaik mungkin” kataku dan memutuskan telepon saat ada ada ketukan di pintu.

“Masuk” aku berteriak supaya dia mendengarnya. Aku hanya duduk di tempat tidur dengan kaki yang menyilang. Dia perlahan lahan membuka pintu dan berdiri sana dengan canggung.

“Kau sudah makan?” Katanya menyelipkan tangannya di kantungnya.
“Belom, aku menunggumu untuk bangun, aku tidak suka makan sendirian” kataku melihat ke arah manapun tapi dia.
“Makanlah denganku?” Dia menanyakan dengan sedikit malu malu, aku tersenyum karena dia sangat adorable. Aku berdiri dari tempat tidur dan berjalan keluar dan hanya diikuti olehnya.—————————————————————————————————-

Ini sudah jam 12 siang dan dia belum juga bangun, aku benci duduk sendiri di sini sendiri. Tidak ada yang bisa dilakukan di tempat ini. Tidak ada acara yang bagus di TV juga, aku bosan membuka internet, aku juga tidak bisa keluar dan meninggalkan Zayn. Aku perlahan lahan berjalan masuk ke kamarnya dan kudapati dia tidur di kasurnya yang berantakan. Tubuhnya bertato terlihat dengan jelas di hadapanku. Aku memperhatikan satu satu tatonya, mencoba untuk membaca tapi gagal.

“Zayn,” kataku dengan suara yang pelan, mencoba untuk tidak mengagetkannya.
“Zayn,” aku mengulang dan dia hanya bergumam tidak jelas.
“Zayn ayo bangun” kataku dan dia bergumam sekali lagi, lebih kencang dan akhirnya dia membalikkan badannya menghadapku, dan matanya perlahan lahan terbuka, menunjukkan mata hazelnya. Gosh, matanya sangat indah...uh. Aku terhanyut dalam keadaan dan kehilangan kata kata.

“umm, udah jam 12, dan kau masih tertidur….aku benci duduk di sini sendiri…dan tempat ini sedikit menyeramkan.” Kataku. "Dan, aku lapar." Tambahku, dia tersenyum padaku dan duduk di pinggiran tempat tidurnya mengambil HPnya yang ada di meja. Sepertinya dia mendapatkan pesan baru dari seseorang, aku tidak ingin mencampuri urusan orang lain jadi aku berbalik dan berjalan keluar.
"Ini dari dia." Katanya, cukup keras membuatku mendengar dan aku berbalik badan lagi ke arahnya.

"Apa yang dia mau sekarang?" Kataku sambil menyilangkan tangan ke dadaku.
"Its another I'm sorry text...ini tidak membuatku menjadi lebih baik! Jika itu yang dia mau." Dia menggeleng geleng kepalanya ke HPnya, aku berjalan ke arahnya dan aku mengambil HPnya dari tangannya dan berjalan menjauh sambil membaca sms sms itu.

'Maafkan aku telah melakukan ini, aku terpaksa dan aku tidak punya pilihan lagi, please don't hate me :('

Aku membacanya dengan suara yang lumayan keras untuk zayn dengar.
“please don’t hate me? Sudah terlambat, dia sudah membencimu!” Aku meneriaki layar HP zayn untuk alasan yang tidak jelas, aku tidak mengerti juga kenapa.
“Sebenarnya, tidak.” Aku mendengar suara Zayn dibelakangku dan aku berbalik badan lagi menghadapnya.
“Apa?” Tanyaku bingung.
“I miss her” katanya melihatt ke tangannya dan aku hanya berdiri di sini tidak tau harus berbuat apa atau berkata apa.

“Baiklah cukup.” Kataku kembali dengan HPnya lagi.
“Apa yang kau lakukan?” Tanyanya.
“Aku menghapus semua tentang dia yang ada di HP ini” kataku berterus terang.
“Apa? Jangan!" Kata Zayn.
“Terlambat!” Kataku sehabis menghapus semua smsnya, Zayn berdiri dari tempat tidurnya dan berdiri di depanku.

“Kembalikan HPku, please.” Dia meminta, menjulurkan tangannya dan aku berlari ke sisi lain ruang ini.
“wow dia..” Katau berpaling dari HPnya dan ke dia, mataku berkelana sampai ke badannya, he has a nice abs! Matanya mengikuti kemana arah mataku pergi.

“Oh ayolah, kau lihat apa?” Katanya sambil tertawa kecil tapi tetap serius dan aku melihat kembali ke HPnya dan kurasakan pipiku memanas.
Setelah aku menghapus nomor, sms dan semua fotonya yang ada di HPnya, aku berjalan kembali ke arahnya dan mengembalikan hpnya dan berjalan keluar kamarnya. 
———————————————————————————-
*hari ke tiga*

Aku bangun dengan mood yang tidak mendukung. Aku hanya ingin makan....pergi keluar sana...aku tidak biasa menghabiskan waktuku di satu tempat saja....ini bukan aku sama sekali kau tau.

Ini jam 10 pagi dan aku tau Zayn pasti belom bangun jam segini, aku memakai sports bra Nike berwarna biru dan sweat pants hitam, karena tempat ini sangat panas! Lagian aku akan memakai tanktopku kalau dia sudah bangun. Aku mulai mencari ikatan rambut untuk menggulung rambutku tapi aku tidak menemukannya dan rasanya seperti hal terburuk di dunia ini (hiperbola!) Jadi aku mengambil beberapa helai rambut dan mengikatnya dengan kesal.

Mencoba untuk tenang, aku pergi ke dapur untuk membuat the dan memulai membuatnya. Saat membuka toples gula, toples itu ternyata kosong.
“really?” Aku meneriaki toples kosong itu, ergh itu mungkin sebuah habitku meneriaki benda mati.
“ughh, bagaimana aku tau dimana dia menyimpannya?” Kataku dengan keras sambil mencari gula yang mungkin dia simpan, membuka kabinet terakir dan aku melihat laci paling atas. Dan itu dia!

“A-ha!” Kataku sambil mencoba meraih sekantong gula itu, karena aku terlalu pendek untuk mengambilnya, aku mulai menjijit dan mencoba lagi.

“Ayolahhhh” kataku saat jari jari tanganku mulai menyentuh gula itu, saat aku berkonstentrasi dengan apa yang kulakukan, aku merasakan 2 tangan menyentuh pinggangku yang mengirim aliran listrik ke tubuhku membuatku melenguh dengan keras dan berbalik badan. Aku terdesak oleh badannya dan meja dibelakangku, dan dia mengambil sekantong gula yang ada di atas kabinet. Napasku mulai berat, aku benar benar takut apa yang akan terjadi tadi.

Dia membawa turun sekantong gula dan dia menaruh di atas meja. Dia hanya berdiri tidak bergerak. Jarak antara tubuh kami hanya beberapa inci dan itu tidak membantu pernapasanku! Dapat kurasakan kehangatan mendatangi dadanya menyentuh tubuhku sambil dia menatap kebawah ke mataku dan aku menatap ke atas ke matanya. Seperti kami beku di situ, dan aku tidak bisa menahan menatap mata hazelnya itu....sangat indah. Matanya benar benar dapat mengambil napasku.

Tidak bisa bernapas lagi, akhirnya aku mendorongnya dengan sekuat tenaga.
"You idiot!" Aku berteriak kepadanya dari atas paru paru (lol). "Kau menakutiku!" Teriakku lagi dan dia berdiri di sana membeku, mataku datang ke pandangan seluruh tubuhnya, hanya membuatku setengah menatapnya absnya, meskipun dia baru saja bangun, matanya masih terlihat ngantuk, rambutnya hampir jatuh ke matanya itu semuanya mengagumkan...secara harafiah.

"Maaf, aku hanya ingin menolongmu." katanya, mengangkat tangannya menandakan kalau ia menyerah.
"Menolongku? Aku yakin, kau bisa saja membunuhku!" Kataku, meneriakinya lagi sambil menggelengkan kepalaku, kurasakan gulungan rambutku mulai lepas dan rambutku mulai jatuh ke bahuku. Tatapan zayn mulai berubah dan dia melihatku dengan senyuman. Mencoba untuk menenangkan diri, aku berjalan sekitar dapur dengan tanganku menyingkirkan rambutku yang menutupi wajahku.

"Kenapa kau bangun sepagi ini?" Tanyaku, akhirnya tenang.
"Mimpi aneh, yang membuatku tidak bisa tidur, itu saja." katanya dan aku memulai membuat teh.
"Benarkah? Mimpi apa?" Tanyaku, menuangkan air panas di dua mug, aku menyerahkan dia dan bersandar di meja dengan kakinya menyilang dan satu tangan di sakunya satunya lagi memegang cangkir panas.
"Perrie." Katanya dengan sangat santai.
"Ugh! You gotta be shitting me!" Kataku dan dia hanya tertawa akan kata kata yang aku gunakan.
"Percayalah, I shit you not!" Katanya dan aku hanya tertawa. "Dia ada disini, dia mau aku kembali, dia bilang dia minta maaf kalau dia harus melakukan itu, dia terlihat sedih, sepertinya dia-"

"Dia bodoh." Kataku blak blakan, memotong pembicaraannya.
"Apa?" Katanya dengan tegas.
"Maaf, tapi memang dia bodoh! Seriously,  'maaf aku harus melakukannya' tidak ada yang 'harus' bermain dengan perasaan seseorang seperti itu dan pergi seakan orang itu bukan apa apa. Manusia apa pun dengan perasaan tidak akan melakukan hal seperti itu ke manusia yang lain!" Kataku, meminum tehku.

"Jadi menurutmu, dia adalah alien?" Katanya sambil menaiki alisnya.
"Mungkin." Kataku mengejeknya.
"Tapi aku tidak bisa berhenti memikirkannya." Katanya dan aku hanya berdiri di sana dengan diam. Apa yang harus kulakukan sekarang?... Aku mulai berpikir, sekali lagi mencari ide

“Kau punya foto dengannya?” Tanyaku sambil memegang mug di kedua tanganku.
“yep” katanya
“Boleh aku melihat?”
“Tentu” katanya  meletakkan cangkir di meja dan berjalan ke kamarnya. Aku mengililingi dapur mencari petikan api.
“Nih” katanya memberikan fotonya dan aku hanya memberinya petikan api itu dan bersandar di meja sekali lagi, dia berdiri di sana, bingung.

“Bakar” kataku singkat
“Apa? no, no, NO” dia memulai “kau telah membuatku menghapus semuanya dari hpku dan sekarang ini? No way!” Katanya meletakkan petikan api itu di meja.
“Kau mau melupakkannya atau tidak?” 
“…mau”
“Kalau begitu, bakarlah.” Kataku memberinya petikan api lagi, dia melihatku dengan ragu ragu dan berjalan ke wastafel dan menyalakan foto ini dengan api.

“Sekarang dia hilang dari kehidupanmu! Move on, bud.” Kataku melihat ke arahnya dan dia juga hanya menatapku tanpa berkata apapun. Menyadari aku berdiri sangat dekat dengan dia membuatku susah bernapas. Seperti ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokanku. Aku segera berjalan keluar dapur tanpa mengatakan apapun. 
Aku berjalan cepat ke kamarku dan mengambil tanktop dan memakainya, aku merasakan dia juga berjalan ke kamarnya dan aku berharap semoga dia memakai kaos juga karena aku tidak akan menahan rasa.....ergh kenapa aku ini? Aku tidak menyukai Zayn, aku tidak mempunyai perasaan apa apa....dia hanya...hot. Kurasa tidak apa-apa berpikir kalau dia memang hot, mungkin.

Aku berjalan keluar kamar ke dapur lagi untuk sarapan.
"Zayn kita sudah tidak punya makanan!" Aku berteriak dari kulkas.
"Apa?" Katanya saat berjalan ke dapur dan dia memakai kaos 'cool kids don't dance'..thankgod.

“Tidak ada makanan..kita harus pergi belanja.” Kataku smbil mengambil apel terakhir yang ada di kulkas dan mencucinya.
“Oh tidak apa-apa, aku akan menelpon orang untuk membawakan makanan.” Dia berjalan ke telepon untuk menelepon orang, aku mengikutinya dan segera memutuskan telponnya.

“Zayn, kita akan keluar” kataku sambil menaikkan alisku dan menggigit apel yang baru saja kucuci.
“Nope, kita tidak akan keluar” katanya meng-dial ulang telepon dan aku berjalan keluar dapur mencari colokan telpon dan mencabut semua jaringan telpon di flat ini.
“Percayalah, kita akan” aku menyender di pintu sambil mengunyah apelku tadi.

“Tidak” katanya singkat dan berjalan balik ke kamarnya, aku tertinggal sendirian di dapur dan aku mengambil semua makanan yang bisa dimakan dan duduk di ruang tamu. Tidak lama kemudian Zayn keluar dari kamarnya, kukira dia akan mencari makanan di luar, tapi ternyata tidak.

“Aku akan memesan makanan, kau mau apa?” Dia berteriak dari posisinya yang agak jauh dariku, di tempat dia meletakkan telepon flat di dekat kamarnya.
“Tidak usah, aku sudah makan.” Aku berteriak balik.
“Kau sudah makan? Tapi kau bilang kau tidak suka makan sendiri.” Katanya, mendatangiku, aku tidak merespon jadi dia hanya datang dan duduk di sampingku. Ada sejenak kediaman berlangsung dan dia akhirnya memulai percakapan.

“fine, kita akan mencari makan, tapi kita hanya pergi dan kembali, tidak lebih, tidak kurang, ok?” Katanya dengan cepat.

Kami berjalan di keramaian kota London, tapi untungnya tidak ada yang mengenali Zayn. Dia terlihat sangat berbeda, dia terlihat sangat bagus untuk menjadi seorang hobo. Dia pun tidak memerdulikannya lagi, dia juga tidak menyukur rambut-rambut yang mulai tumbuh di sekitar wajahnya. Kami keluar dari flat Zayn dan itu sudah cukup bagus, kami membeli banyak makanan dan balik ke flatnya.