Halaman
HEY i'm a Directioner! VasHappening?♥
thankyou for reading my stories, you can read them from 'story one', 'story two', or 'zls'. please leave a message or opinion in the comment box (:
oh my flack! youre the 
Rabu, 12 Desember 2012
ZLS 4
——————————————————————————
*3 hari kemudian*
“Kami pesan...” Dia mengatakan sambil melirik menu, kami berada di restoran yang sama seperti sebelum menjadi sesuatu bagi kami untuk pergi ke sana setiap saat dan kami akan melakukan hal yang sama seperti biasa.
"No no no, kau memesan makanan terakhir kali, dan sekarang giliranku." Aku melihat ke menu. "Bagaimana kalau kita pesan grilled chicken dan pasta?" Tanyaku.
"Baiklah." Katanya sambil tersenyum.
———————————————————————————
*akhir pekan*
"Kau akan kalah, Malik!" Aku meneriakinya.
"Oh yeah? Bring it on Brianna!" Dia meneriaki balik.
"Guys, santailah, ini cuma permainan." Kata Liam.
"Yep, karena kau akan kalah!" Kata Louis dan aku meng-highfivenya. Kami sedang bermain di flat utama the boys yang jaraknya tidak terlalu jauh dari flat Zayn.
Zayn akhirnya mau keluar dari flatnya untuk bertemu yang lain. Aku sudah lama tidak bertemu the boys plus Eleanor dan Danielle sejak aku tinggal bersama Zayn.
Kami sedang bermain rugby dari Wii. Setelah beberapa babak, aku merasa b osan dan haus, jadi aku mulai berjalan menjauhi mereka dan berjalan ke dapur, ke tempat Eleanor dan Danielle sedang mengobrol.
“Bree, kau tidak apa-apa?” Teriak Zayn dari tempat bemain kami tadi karna aku meninggalkan mereka.
“Yeah, aku cuma mengambil minum” aku berteriak balik.
“Ok!" Katanya memberiku senyuman dan kembali lagi bermain.
Aku menjatuhkan diriku di kursi sebelah El dan mengambil sebotol air, membukanya sambil melihat kembali ke arah the boys yang lagi main, aku melihat Zayn tersenyum ke arahkudan aku mengikutinya. dia selalu bisa menggambar senyum di wajahku.
“Jadi kau dan Zayn sekarang berpacaran?” Aku tersedak dan air yang ku minum tadi keluar lagi, membuatku batuk.
“Bree! Kau tidak apa apa?” Aku dengar suara Danielle.
“Apa katamu?” Aku melihat ke arah El.
“Kalian berdua berpacaran?” Dia bertanya lagi.
“Siapa yang memberitahumu itu?” Tanyaku, menyender di kursi.
"Tidak ada, tapi itu sangat jelas. Maksudku, lihatlah bagaimana dia khawatir saat kau meninggalkannya dan bertanya apa kau baik baik saja" kata El.
“Terus kenapa? Kami teman baik dan aku menghabiskan banyak waktuku bersamanya, di flatnya." Kataku, meyakinkannya.
“Tepat sekali” kata Danielle.
“Kau juga?!” Tanyaku.
“Ayolah Bree, kau baru saja berkata kalau kalian menghabiskan banyak waktu bersama, tepatnya 5 minggu! Dan ayolah, kau tau kalau Zayn itu sexy, dan dia sangat baik, tidakkah sekali saja kau berpikir itu?" Kata Danielle.
"tidak, aku belum dan hiraukan saja itu oke. Aku hanya tinggal dengan dia sampai ia melupakan mantannya dan ketika dia melakukannya itu, selesai, aku akan pindah kembali kerumahku."
"Dia telah melupakannya, percaya padaku." Kata Danielle.
"Maksudmu?" Tanyaku.
"Bukankah dia kemarin keluar untuk 'mencari makan' untuk kalian berdua?" Kata Danielle.
"ya, bagaimana kau tau?" Aku melihat dengan bingung.
"karena ia bertemu dengan seorang gadis dan dia mengajaknya keluar dan dia datang dan mengatakan Liam semua tentang hal itu ... dan kemudian tentu saja Liam mengatakan kepadaku ... jadi ya"
“oh…guess I’m moving out then” kataku, melihat ke arah Zayn.
Mengapa aku merasa begitu buruk tentang hal itu? Maksudku, aku sudah menghabiskan semua waktu ini dengan Zayn hanya untuk membawanya ke saat ini. Ketika ia akhirnya dapat melupakan masa lalunya dan pergi keluar dengan gadis lain. Tapi aku tidak mau pergi, aku sudah terbiasa dengan dia, sepertinya, bagaimana aku bangun setiap pagi dan membuat Zayn bangun beberapa saat kemudian, karena dia tidak mau meninggalkanku sendiri.
Percakapan panjang setiap pagi di dapur, nonton TV sepanjang hari karena tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Tapi aku akan melihat dia lagi kan? Seperti kami tidak akan berhenti berteman?
*di flat zayn*
“Apa yang akan kau lakukan besok?” Tanyanya saat kami lagi menonton TV.
“Aku belum tau, kau?” Tanyaku, tidak mengalihkan mataku dari TV.
“Aku punya kencan besok” katanya dan kurasakan hatiku tenggelam..tapi aku tidak bisa menunjukkan itu jadi aku hanya tersenyum dan memalingkan wajahku ke arahnya.
“Tidak mungkin!!” Kataku terlihat senang.
“Yep, dan aku akan bertemu dengannya di restoran kita....maksudku restoran yang ada di sekitar flat ini." Kata Zayn, dia terlihat sangat senang.
"Itu bagus sekali! Aku sangat sangat senang untukmu, kuharap semuanya baik baik saja besok!" Kataku. Aku menghela napas sebelum meninggalkannya dan pergi ke kamarku.
Sebelum tidur, aku diam diam membereskan barang barangku, jadi aku akan pergi besok.... Kenapa semua ini terdengar seperti aku akan meninggalkan Zayn selamanya? Aku hanya pindah dari tempat ini...biarpun semuanya terasa tidak benar. Hatiku terasa sangat berat di dadaku, aku merasa aku tidak bisa bernapas.—————————————————————-
*besoknya*
“Bagaimana penampilanku?” Katanya, berjalan keluar dari kamar mandi memakai jas hitam, dia sehabis mencukur kumisnya, rambutnya terlihat sangat rapi dengan jambulnya seperti biasa, dia terlihat sangat berbeda, sangat gentleman.
"Sempurna." Kataku sambil merapikan dasinya.
"Benarkah?" Katanya.
"Yep." Kataku dan aku menangkap tatapannya lagi, tanganku beristirahat di dadanya, merasakan naik dan turun dari setiap napas yang ia ambil. Aku melihat ke wajahnya yang sangat indah, mencoba untuk memahami kalau akan ada gadis lain yang akan menikmati ini.
“Thank you”
“you’re welcome, kau harus pergi” kataku, melangkah menjauh darinya.
"ya, jangan pergi tidur tanpaku please, dan aku benar-benar minta maaf kalau kau harus makan sendirian malam ini, tapi ini hanya untuk satu malam. Jika kau memerlukan sesuatu panggil aku ok.... atau jika terjadi sesuatu." Dia terus berbicara sambil mengambil langkah ke pintu keluar dan aku mengikutinya.
"Bye."
"Bye."
Sesaat setelah Zayn meninggalkan rumah, aku segera mengganti bajuku dan memberes bereskan tasku untuk pergi dari flat ini. Aku memanggil taxi untuk mengantarku ke rumahku, yang sebenarnya sangat jauh dari sini dan aku menulis surat terakhir dan meninggalkannya di kaca toilet seperti biasa. Menutup pintu untuk terakhir kalinya, dan naik ke taxi. Taxinya mulai berjalan dan aku hanya menatap keluar jendela mobil. Mendekat ke arah 'restauran kami', mataku tertangkap pada Zayn yang duduk di meja kami seperti biasa. Melihat ke menu, di depannya duduk seorang gadis yang berambut coklat dan saat itu aku dapat mendengar suara hatiku yang hancur.
Aku melihatnya menoleh ke arah taxi yang aku naiki, aku segera menunduk ke bawah, menghindarinya, dan di saat itu, detik itu, aku sadar...
Kalau aku mencintainya.
——————————————————————
Zayn’s POV
Aku duduk di sini, di depan cewek yang aku hampir aku tidak kenal. Namanya Geneva dan dia seumuran denganku sepertinya dan hanya itu yang kutau tentang dia. aku mengamati menu yang sangat familiar, atas dan bawah.
"Aku mau steak." Katanya.
"Oh..." Kataku masih melihat menu. "Kau mau pasta? Aku ingin sekali mencobanya tapi aku juga mau ayam panggang....kita bisa berbagi." Tanyaku dengan tersenyum, mengingat kalau dulu Bree yang mengajakku untuk berbagi makanan.
"Ga, aku mau steak, jadi bisakah kau pilih apa yang kau mau?" Katanya dan sejenak kepalaku menoleh ke arah luar, aku yakin tadi aku melihat bayangan Bree di luar. Dan saat itu aku tersadar,
Apa yang aku lakukan di sini? Dan most of all, apa yang aku lakukan di sini dengannya? Yang aku mau ialah bersama Bree, tapi aku tidak bisa meninggal cewek ini sendiri di sini.
"Aku mau ayam panggang." Kataku, dan pelayan itu pergi. Malam itu berjalan biasa saja, dan hal yang aku pikirkan hanyalah menghabiskan malam seperti biasa dengan Bree di flatku tidak melakukan hal apa pun, hanya menonton TV dan mendengarnya tertawa akan leluconku dan aku akan tertawa akan tawanya dan itu membuatku merasa lebih baik. Aku menemukan diriku berpikir terlalu lama dengan pikiranku yang tidak di sini.
"Kau tidak apa-apa?" Kata cewek yang di depanku.
"Ya, maaf, hanya banyak pikiran." Kataku, membenarkan tempat dudukku.
"Oh. Jadi aku mau...-" dia memulai.
"Apa yang kau pikirkan tentang mataku?" Kataku berterus terang, memotong pembicaraanya.
“Ha?” Dia setengah tertawa.
“Mataku.. Apa menurutmu tentang mataku?” Aku mengulang.
“Matamu..........coklat.” Katanya perlahan lahan dan aku tersenyum pada diriku sendiri, mengingat perkataan Bree:
'Kau pantas mendapatkan cewek yang akan memberitahumu seberapa indah matamu, biarpun kau tidak pernah mementingkannya.'
Malam itu akhirnya berakhir dan aku sedang di jalan ke kamarku, dengan makanan yang kubawa pulang dari restoran tadi, berlari ke atas, merasa sedikit senang bahwa aku akan membuka pintu itu dan menemukannya di dalam begitu ceria dan bahagia menunggu untuk mendengar segala sesuatu tentang hariku dan mencerahkan malamku dengan tawa dan komentar sarkastiknya. Aku meraih kantongku untuk mencari kunci, saat aku membuka pintu, masuk ke dalam, rasanya tempat ini terdengar lebih diam dan sepi.
"Bree?" Panggilku sambil menutup pintu dibelakangku. "Bree?" Panggilku lagi.
"Tebak apa? Restoran kita membuat menu baru, pasta! Jadi aku membawanya untuk kita coba!" Aku tidak mendengar jawaban.
“Bree? Kau di sana?” Panggilku lagi, meletakan makanannya di meja dan berjalan ke kamarnya.
"Brianna?" Panggilku dengan suara pelan, aku mengintip sedikit kamarnya. Kosong. Tidak ada barangnya lagi yang berserakan di mana mana, dan kamarnya terlihat sangat bersih, sama seperti sebelum dia menginap di sini.
"Tidak tidak tidak" aku terus mengulang dan keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar mandi.
"Bree?" Panggilku lagi dan aku dijawab oleh kediaman. Aku berdiri di sana, di tengah tengah flatku, sekali lagi, aku tertinggal sendirian....sendirian. Keseluruhan tempat ini sepi, tepatnya seperti tidak ada kehidupan.
Dengan kecewa, aku pergi ke kamarku dan menjatuhkan tubuhku di tempat tidur, melepas dasiku dan melempar ke lantai. Melepas jaket dan bajuku dan melempar entah kemana.
Aku pergi ke kamar mandi, menyalakan lampu dan aku melihat cermin dengan sudut mataku dan berpaling cepat dan aku melihat kertas di cermin dan aku mulai membacanya.
'Hi! Saat kau membaca ini, pasti kau baru saja balik dari kencanmu kan? Bagaimana? :D Anyway, sekitar 5 minggu yang lalu, aku berjalan ke flat ini dengan kekuatiran yang sangaaaaaaaaat tinggi padamu. Dan aku menemukan bahwa hatimu sedang hancur dan aku tinggal di sini untuk meyakinimu, membuatmu lebih baik dan move on dan ternyata.... Misiku tercapai! Jadi menurutku, sudah tidak ada tujuan lagi untukku tinggal bersamamu lagi. Kau mungkin lega kan sekarang? Aku tau aku bagaikan luka padamu, tapi aku mungkin akan merindukan menghabiskan waktu bersamamu...jadi TTYL. Bye! :)" aku membaca.
Ironis sekali, 5 minggu yang lalu aku selalu memohon padanya untuk meninggalkanku dan sekarang, aku tidak bisa menghadapi kebenaran kalau dia telah pergi. Ini bukan seperti kalau aku mau, aku bisa pergi ke tempatnya. Tapi aku biasanya hanya melihat dia sekali sebulan.
Aku mengganti baju dan duduk di depan TV. Satu satunya suara di flat ini, hanya suara dari TV, aku menonton dengan ekspresi datar, bahkan aku tidak tau apa yang aku tonton. Karena satu satunya alasan mengapa aku menonton TV dan tertawa, karena dia melakukan hal itu, tertawa akan lelucon konyol di TV dan mendengarnya tertawa, membuatku tertawa juga. Aku memperhatikan kekosongan tempat ini, berharap dia mungkin akan duduk bersamaku dan menghabiskan malam ini bersama.
Menyerah, aku mematikan TV dan pergi ke kamarku dan berbaring di tempat tidur. Aku hampir bisa merasakan kulitnya yang halus di bawah jemariku seperti yang pernah ku lakukan. Aku ingat bagaimana aku menggerakan tanganku ke perutnya malam itu untuk waktu yang sangat lama untuk menenangkannya. Bagaimana dia terlihat sangat cantik saat dia tertidur dan bagaimana wangi tubuhnya adalah satu satunya yang bisa kuhirup malam itu. Aku tertidur malam itu, memikirkannya, memikirkan kalau aku dapat memilikinya....memikirkan hal yang sama yang aku pikirkan sekarang.
—————————————————————-
*hari berikutnya*
Zayn's POV
Aku terbangun dan dengan sendirinya aku berjalan ke dapur...aku tidak tau mengapa. Aku berdiri di depan pintu dapur, dan lampu dapur masih mati, tidak orang di sana. Aku berdiri di sana untuk beberapa waktu.....
"Aku tidak bisa terus melakukan ini" aku berkata pada diriku sendiri dan berjalan ke arah telpon dan menekan telpon.
"Hey zayn" aku mendengar suara Liam.
“Hey Li, kau tau dimana Brianna tinggal sekarang?” Aku bertanya.
"Aku tidak tau pasti, yang aku tau dia tinggal di sisi lain London." Katanya.
"Bisakah kau tanya siapapun? Aku ingin ketempatnya" kataku.
"Aku akan menanyakan Danielle kalau dia tau, aku akan beritahumu secepatnya." Katanya dan dia memutuskan telpon, aku duduk di tempt tidurku dengan telepon di tangan, menunggu sms dari Liam dengan tidak sabar.
"Cmon cmon" aku berkata pada teleponku. "Ayolah!" Aku berkata lagi. 2 menit kemudian, telepon menyala dengan sms dari Liam, aku membacanya dan isinya ada alamatnya.
---------------------------------------------------------------
Aku terengah engah berdiri di depan pintunya. Aku melihat jamku, dan ternyata butuh sejam setengah untuk ketempatnya. Dengan mengambil napas, aku memencet bel rumahnya. Tidak ada yang menjawab, aku memencet lagi. Aku melangkah mundur saat pintunya terbuka. Bree. Dia terlihat cantik seperti biasanya, tersenyum padaku.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Katanya, setengah tertawa. Dan kurasakan duniaku menyala lagi.
————————————————————
Bree's POV
Aku membiarkannya masuk dan duduk di ruang tamu. Aku melihat ke arahnya, dan dia terlihat sangat sempurna, seperti biasanya.
"Mengapa kau tidak memberitahuku kalau kau akan pergi?" Tanyanya.
"Aku meninggalkan kertas, tidakkah kau lihat?" Jawabku.
“Kenapa kau tidak memberitahu?” Tanyanya lagi, menyelipkan tangannya ke kantongnya.
“Karena kau tidak membutuhkanku lagi” kataku, menyilangkan tanganku ke dadaku.
“Aku membutuhkanmu, seharusnya kau memberitahuku dulu” katanya, dan dia berjalan mendekat.
“…sorry, I guess.” Kataku, bingung. “Kenapa kau di sini Zayn?" Tanyaku.
“Aku di sini untuk membawamu balik” katanya dan sekarang dia berada beberapa inci dariku.
“Kau mau aku tinggal bersamamu?” Tanyaku, dan dia mengangguk. "Sure, aku teman baikmu dan aku bisa saja tinggal bersamamu" kataku mencoba untuk tenang, dan terlihat cool.
"Aku tidak mau kau balik sebagai teman baikku." Katanya dan aku hanya melihatnya dengan bingung, dia berjalan mendekat lagi denganku sangat dekat, aku dapat merasakan hangat tubuhnya yang membuatku susah bernapas.
"Please jangan berdiri sangat dekat padaku, aku mempunyai masalah bernapas." Kataku dengan napas yang berat, seakan memberitahunya unruk lebih mendekat lagi. Belakangku mengenai tembok dan aku tidak bisa bergerak lagi. Dia mendekatkan wajahnya dan sekarang dahiku dan dahinya bersentuhan. Aku mendorongnya dengan pelan.
“Kau mempunyai mata hazel yang sangat indah!” Kataku melihat langsung ke matanya dan saat itu aku merasakan lembut bibirnya menyentuh bibirku.
..........
Aku melepas ciumannya karena aku benar benar kehabisan napas. Dia tersenyum dan menarikku lebih dekat ke dadanya oleh pinggangku, ia terus menatapku. Seolah-olah ia sedang memeriksa wajahku, ia menyingkarkan seikat rambut dari mataku dan menatapku.
"I love you Brianna" katanya dan tampaknya seolah-olah kata-katanya membawa saya kembali dari tempat yang membosankan.
"I love you too, Zayn."
-----------------------------------------------------------------
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar