Namaku Brianna, 17 tahun dan tinggal di London, sebenarnya aku tinggal di LA, tapi karena perkerjaan, aku pindah ke London. Rambutku coklat, mataku biru dan tinggiku 5'7 (http://24.media.tumblr.com/tumblr_m7igu9QHee1qmh145o1_500.jpg).
Aku berteman dengan One Direction, biggest boyband in the world. Tapi aku berteman bukan karena mereka terkenal, melainkan karena sifat mereka yang memang sangat down to earth. Aku berteman dengan mereka sudah sejak di X-Factor. Saat itu, aku bekerja sebagai make up artists untuk konstestan X-Factor. Tapi sekarang aku sudah keluar.
****
Kota London siang ini sangat indah! Cuaca yang sangat bagus untuk pergi bermain bowling (?). Aku segera menelpon teman-temanku yang biasa aku ajak hangout di weekend ini.
Di tempat bowling....
"Niall kau tidak apa-apa?" Aku bertanya ke Niall yang hanya duduk di meja dengan tampang yang sedikit muram memperhatikan aku dan 3 lainnya sedang bermain. Dan disaat itu aku menyadari, dimana Zayn? Sudah lama aku tidak melihat jambul 12cm nya itu.
“Dia...uhm...dia..” Niall memulai.
“Dia ada di flatnya.” Kata Louis yang baru saja menggelending bolanya dan berjalan ke arah aku dan Niall, memotong pembicaraan Niall. Sepertinya dia menguping.
“Apa dia baik-baik saja? Dia tidak mengangkat teleponku beberapa hari ini dan aku jarang melihat dia berjalan bersama kalian lagi” Kataku pada Louis.
"Baik baik saja sepertinya bukan kata kata yang tepat." Kata Harry.
“Guys, ayolah, ada apa?” Kataku dengan nada yang sedikit tinggi membuat aksen Amerikaku terdengar.
"Maaf Bree, mungkin kau sendiri yang harus menemuinya." Tambah Liam.
“Fine." Kataku meneriaki mereka dan merenggut tasku yang ada di meja tadi.
Aku mulai berjalan keluar dari tempat bowling dan mulai diasupi oleh perasaan khawatir. Aku sangat berharap dia tidak apa apa. Aku telah mengenal mereka semenjak aku datang ke sini, mereka adalah satu satunya teman yang aku buat. Selainnya, hanya kenalan. Aku biasanya tidak bisa membuat teman, tapi mereka yang membuatku merasa nyaman. Dan untuk Zayn, aku telah menjadi teman perempuannya yang orang lain tidak akan pernah mengerti.
Melangkah keluar dari taxi dan aku memberikan pengendara taxi itu sejumlah uang dan segera berlari ke gedung yang ada di depanku. Berlari lewat tangga, karena gedung itu hanya berlantai 4. Aku lari ke lantai dua dan berhenti di depan pintu Zayn sambil mengambil napasku.
Aku mengetuk pintunya.....tidak ada yang membalas. Aku mengetuk lagi lebih keras, mungkin dia tidak mendengar. Dia biasanya langsung membukakan pintu saat aku mengetuk. Menekan bell pintu, akau mengetuk pintunya di waktu yang sama.
"Zayn! Buka pintunya!" Aku berteriak di depan pintu.
"Zayn!!" Aku merengek. ( ―̈)
"Ayolah aku tau kau di dalam! Bukalah Zayn." Aku berteriak lagi. Aku mencapai tanganku untuk mengetuk pintunya lagi, tapi pintunya terayun terbuka.
"Oh my god." Kataku melihat dari atas sampai bawah cowok yang ada di depanku itu. Dia terlihat sangat capek, memakai kaos putih polos dan skinny jeans hitam. Dan itu hanya membuat tubuhnya yang capek dan kurus terlihat dngan jelas. Membiarkan pintu itu terbuka, tanpa berkata apa pun, dia masuk lagi ke flatnya dan membantingkan diri ke sofa.
Perlahan lahan aku membuat jalanku ke dalam flatnya dan melihat ke semua sudut flatnya, semuanya berantakan.
“Zayn, apakah angin topan memukul flatmu?” Kataku sambil melihat sekitar dan mengambil kursi yang tergeletak jatuh di lantai dan membawa ke depannya.
“Apa yang kau inginkaan?” Katanya melihat ke bawah, dengan sikunya di atas lututnya.
“Aku datang mengecek keadaanmu”
“Aku baik baik saja. Sekarang pergilah” katanya sambil melihatku dengan matanya yang sekarang penuh dengan kesakitan.
"Tidak, kau tidak baik baik saja. Apapun yang terjadi padamu, kau tidak bisa mengunci dirimu sendiri dan hidup seperti di goa.
"Saat ini, aku tidak merasakan hidup sama sekali." Katanya sambil melihat ke bawah lagi.
"Apa yang kau maksud?" Tanyaku sambil menggelengkan kepala.
"Mereka tidak memberitahumu?" Katanya menyender ke sofa dan melihat ke arahku.
"Nope. Aku tidak tau apa apa, makanya aku kemari." Jawabku. Dia tetap diam.
"Cerita padaku!"
"Zayn?"
"Please?" Dia tidak berbicara.
Jari jarinya terjalin, dan menatap ke tangannya.
"Ok fine. Aku tidak percaya kau membuatku memohon padamu." Kataku berdiri dan berjalan setengah menjauh dari sofa yang diduduki Zayn.
"She broke up with me." Katanya dengan suara yang rendah. Kata katanya memberhentikan langkah kakiku. Aku membalikan badanku perlahan lahan dan berjalan balik ke arahnya dan menjatuhkan tasku ke lantai dan duduk di sofa yang sama di sebelahnya kirinya.
"Apa yang terjadi?"
"Dia hanya memanfaatkanku." Katanya, tetap tidak membuat eye contact.
“Siapa? Perrie?"
“Siapa lagi!" Katanya.
“Memanfaatkanmu untuk apa?” Kataku untuk mencari tau.
“Untuk pekerjaannya, aku hanya sebuah alat untuk dia menjadi terkenal” aku melihat matanya mulai berkaca kaca dengan air mata, dia mengelap dan melipat tanggannya lagi.
“Aku menyukainya sudah 2 tahun Bree! Dua tahun! ..dan saat aku mengira aku mendapatkannya, aku mempunyai segalanya yang aku inginkan, dia memberitahuku kalau dia minta maaf, kalau dia tidak pernah menyukaiku. Dia tidak pernah menyukaiku." Dia mengulang.
“Aku..”
“Jangan kau bilang 'sudah ku katakan'” dia hanya melihatku, dan saat aku melihat tatapannya, itu membuatku sedih juga.
"Atau bilang saja. Itu sudah tidak penting lagi. Kau telah memperingatiku....semua orang memperingatiku. Aku hanya mau dia mencintaiku balik..... Maksudku, dia bisa saja kan?" Dia menatapku dengan tatapan dengan penuh pertanyaan.
"Kita sudah menghabiskan setahun bersama, dia bisa saja menyukaiku. Tapi kenapa dia tidak? ...apakah segitu buruknya kah aku? Tidak pernah berpikir aku yang ada di posisi ini. Mungkin aku terlalu dibutai oleh cinta untuk melihat itu." Lanjutnya. Aku hanya mendengar tiap tiap kata yang ia keluarkan. Semua itu membuatku sakit juga. Tidak pernah aku melihat Zayn sehancur ini.
"Aku menyerah... Aku menyerah akan cinta, cinta itu tidak nyata....jika aku memberikan hati ini ke cewek dan dua minggu lalu dia memutuskanku seperti 'ini hatimu, aku tidak membutuhkannya lagi, kau tidak pantas.'.."
Aku melihat saat air mata mulai jatuh dari matanya ke pipinya dan dia segera menghapusnya secepatnya.
"Aku telah melakukan semua yang kubisa untuk membuatnya senang, dan tetap saja dia tidak mencintaiku." Kata katanya terjatuh dalam kediaman. Suasananya menjadi diam sebentar, dan aku tidak dapat berkata apa apa.
"Wow, aku sangat bodoh."
"Tidak, kau tidak." Aku akhirnya berkata. Tapi mungkin dia tidak mendegar melalui tangisan kecilnya. "Kau tidak bodoh." Aku mengulang, mengangkat kepalanya untuk membuatnya menatapku.
"Kau orang yang hebat, aku yakin itu. Dan dia terlalu bodoh untuk melihatnya. Jangan membuat 1 orang merusakmu begitu saja. Dan kau tau? Aku tidak pernah menyukainya." Aku mengejeknya sedikit dan dia tertawa kecil. At least, dia tersenyum.
"Karena kau berhak mendapatkan yang lebih baik. Kau berhak mendapatkan cewek yang menghargai semua napas yang kau ambil, yang akan jatuh cinta padamu lebih dan lebih tiap harinya. Dan akan membuatmu merasa kalau kau satu satunya. Dan betapa sexy dirimu!" Aku mengejeknya lagi dan dia hanya tersenyum. Aku melanjutkan, "yang akan memberitahumu seberapa indah matamu, biarpun kau tidak pernah mementingkannya. Yang akan ada di sisimu, apapun yang terjadi. Karena hal yang lainnya aku terlihat tidak penting darimu. Cewek itu ada di luar sana. Dan kalau kau menyerah sekarang, bagaimana kau akan mendapatkannya?"
“Aku tidak bisa melupakannya." Dia bilang.
“Ini sudah 2 minggu, butuh berapa lama lagi?" Kataku.
"Aku tidak bisa." Dia mengulang.
“Yep, kau bisa.” Mencari cari ide dan aku berkata tanpa berpikir apa pun yang ada di pikiranku sekarang.
“Dan untuk membantumu, aku akan tinggal bersamamu” kataku sambil tersenyum.
“Apa?" Katanya dengan aksen Bradfodnya.
“Yep, lihatlah, your flat looks like a shit hole." Kataku dan dia hanya tersenyum
"Thankyou." Katanya sambil menarikku ke dadanya. Aku hanya tersenyum. Finally bebannya bisa sedikit terangkat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar